Tuesday, March 26, 2013

Serangan Fajar dilakukan di Masjid


     Tadi subuh di masjid SIT At-Taufik, Cimanggu, Bogor saya menjadi saksi mata praktik serangan fajar. Saat awal saya masuk ke masjid sudah melihat kejanggalan, kenapa tumben solat subuh kali ini jumlah jamaah dari kalangan menengah ke bawah (dalam hal umur maksudnya J ) lebih banyak dari hari-hari biasanya. Anak-anak ini ada yang terlihat masih mengantuk, ada yang senang gembira, ada juga yang masih tertidur lelap di sajadah.

     Setelah selesai salam saya melihat sebuah pergerakan yang masif dari anak-anak ini. Mereka beramai-ramai menuju ke belakang saf solat dan akhirnya mengitari salah satu tiang masjid. Di dekat tiang sudah menunggu seorang bapak yang bersahaja dengan senyum ramahnya, kalau saya menduga beliau ini guru ngaji mereka. Beberapa saat bapak tersebut memberikan wejangan kepada anak-anak yang disambut takzim oleh mereka. Barulah perkumpulan tersebut diakhiri dengan apa yang saya sebut “serangan fajar” yaitu, pembagian uang pecahan Rp 10.000 kepada sekitar 20-an anak-anak yang mengikuti solat subuh berjamaah.

      Ternyata ada nilai positifnya juga ya “serangan fajar” kalau dilakukan tidak berbarengan dengan momen pemilihan kepala daerah hehe. Masjid menjadi ramai, anak-anak mendapat pemicu semangat solat berjamaah di masjid (namanya juga anak-anak), dan insya Allah akan datang juga “serangan fajar” dari langit berupa pahala Allah bagi para guru atau orang tua yang istiqomah mendidik sekaligus melahirkan generasi penerus islam yang solih/ah. Amiin


Sunday, March 25, 2012

Untuk Pengguna Smartphone

Sejak bangun tidur segera membuka smartphone

Entah hanya sekadar ingin melihat jam atau mengecek notifikasi sms atau email

Andaikan smartphone itu Qur’an


Sebelum berangkat beraktivitas, kembali mengecek smartphone untuk kesiapan dikala menjalani aktivitas

Andaikan smartphone itu Qur’an


Selama perjalanan menuju tempat beraktivitas, tak jua bisa lepas dari smartphone

Andaikan smartphone itu Qur’an

Dikala situasi penat dan membosankan di tengah kemacetan, smartphone seperti obat penawar kejenuhan, seakan tidak peduli atau bahkan maklum terhadap kemacetan

Andaikan smartphone itu Qur’an

Saat sedang beraktivitas pun sesekali disempatkan menengok smartphone

Seperti rela serius ber-multitasking demi mendapat manfaat darinya

Andaikan smartphone itu Qur’an

Ketika waktu istirahat, ingin segera menyelesaikan ishoma agar memiliki sisa waktu luang bercengkrama dengan smartphone sebelum kembali beraktivitas

Andaikan smartphone itu Qur’an

Ingat!

berinteraksi dengan smartphone bukan saja karena ada niat tapi karena ada kesempatan

Ketika dibonceng menggunakan sepeda motor

Ketika sedang berbicara dengan orang lain

Ketika sedang nonton di bioskop

Ketika sedang menunggu

Ketika jalan di trotoar

Ketika makan

Ketika..

Ketika..

Ketika..

Dimanapun ada kesempatan menengok smartphone pasti dilakukan

Andaikan smartphone itu Qur’an

Hidup adalah smartphone

Smartphone adalah hidup

Andaikan smartphone itu Qur’an

Sebelum tidur sambil bersandar di kasur me-review aktivitas ber-smartphone, atau mencari berita yang dapat menenangkan jiwa setelah lelah beraktivitas

Andaikan smartphone itu Qur’an

...

Andaikan smartphone itu Qur’an

Mungkin saja jumlah kilobyte data yang digunakan selama ber-smartphone, berjumlah sama dengan pahala yang mengalir Andaikan smartphone itu Qur’an

Seperti berlomba-lomba

Selalu ingin lebih kuota datanya, dari 300 ingin 500 MB, dari 1 ingin 2 GB

Selalu ingin lebih jumlah ayatnya, dari 5 ingin 10 ayat, dari 1 lembar ingin 2 lembar

Sama seperti megabyte terdiri dari kumpulan kilobyte

Sama seperti kata terdiri dari kumpulan huruf

Sama-sama dihitung satu persatu, jika data dihitung biayanya

Sama-sama dihitung satu persatu, jika huruf Qur’an dihitung pahalanya

Andaikan smartphone itu Qur’an

...

Alangkah lebih dahsyat para pengguna smartphone memperlakukan Qur’an seperti memperlakukan smartphone-nya

Alangkah lebih dahsyat para pengguna smartphone berinteraksi dengan Qur’an sebanyak berinteraksi dengan smartphone-nya

Jika ini terjadi maka...

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah

Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan

Tiada daya dan upaya kecuali hanya Allah

Cukuplah Allah menjadi penolong

Jika ini terjadi maka...

Negara mana yang dapat mengalahkan kesejahteraan INDONESIA

Insya Allah

(Ahmad Dawamul Muthi)


Terus Bergerak dan Berkarya | Baituna, Jannatuna

Berbagi | Follow @adamuthi

Sunday, October 16, 2011

Segala Puji Bagi Allah

Jakarta, Minggu (18 Dzulqadah 1432 H): Ketika mendapat kenikmatan, maka disunnahkan mengucap Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah. Seperti itu Rasulullah SAW mengajarkan.

Segala puji-pujian hanya diperuntukkan bagi Allah. Tidak sama sekali untuk yang lain. Alhamdulillah diberikan pemahaman.

Sangat tidak layak pujian diberikan kepada kita, manusia. Alhamdulillah bisa meresapi kandungannya.

Kenikmatan hidup datangnya dari Allah yang Maha Mengatur. Seberapa pun hebatnya kita, kedatangannya tidak ada sama sekali peran dari kita, manusia. Alhamdulillah mengetahui maknanya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah divert pada panggilan telepon, yaitu ketika panggilan ke suatu nomor dialihkan ke nomor lain. Agar mudah memahami urgensi kalimat Alhamdulillah, meminjam istilah divert layak sebagai alat bantu.

Ketika pujian datang atau nikmat hidup kita rasakan, saat itu juga kita harus men-divert-nya kepada Allah, yang berhak menerimanya. Dengan mengucap Alhamdulillah, seketika mengaktifkan menu divert dalam hubungan komunikasi kita dengan Allah. Jika tidak diaktifkan, khawatir seketika itu juga Allah akan men-divert porsi bagian kenikmatan milik kita kepada orang lain.

Jika hidup ini tanpa pemberian nikmat dari Allah, bisakah kita menjalaninya?

Terus Bergerak dan Berkarya | Baituna, Jannatuna

Berbagi | Follow @adamuthi