Sunday, October 16, 2011

Segala Puji Bagi Allah

Jakarta, Minggu (18 Dzulqadah 1432 H): Ketika mendapat kenikmatan, maka disunnahkan mengucap Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah. Seperti itu Rasulullah SAW mengajarkan.

Segala puji-pujian hanya diperuntukkan bagi Allah. Tidak sama sekali untuk yang lain. Alhamdulillah diberikan pemahaman.

Sangat tidak layak pujian diberikan kepada kita, manusia. Alhamdulillah bisa meresapi kandungannya.

Kenikmatan hidup datangnya dari Allah yang Maha Mengatur. Seberapa pun hebatnya kita, kedatangannya tidak ada sama sekali peran dari kita, manusia. Alhamdulillah mengetahui maknanya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah divert pada panggilan telepon, yaitu ketika panggilan ke suatu nomor dialihkan ke nomor lain. Agar mudah memahami urgensi kalimat Alhamdulillah, meminjam istilah divert layak sebagai alat bantu.

Ketika pujian datang atau nikmat hidup kita rasakan, saat itu juga kita harus men-divert-nya kepada Allah, yang berhak menerimanya. Dengan mengucap Alhamdulillah, seketika mengaktifkan menu divert dalam hubungan komunikasi kita dengan Allah. Jika tidak diaktifkan, khawatir seketika itu juga Allah akan men-divert porsi bagian kenikmatan milik kita kepada orang lain.

Jika hidup ini tanpa pemberian nikmat dari Allah, bisakah kita menjalaninya?

Terus Bergerak dan Berkarya | Baituna, Jannatuna

Berbagi | Follow @adamuthi

Saturday, October 15, 2011

Pekerjaan Sebagai Tabungan

Bogor, Sabtu (17 Dzulqadah 1432 H): Sungguh indah jika segala perbuatan yang kita lakukan tercatat sebagai amal kebaikan. Seperti tercantum pada hadist pertama di dalam hadist Arbain karya Imam Nawawi, tentang niat. Segala sesuatu yang dilakukan tergantung niatnya.

Segala yang dilakukan/diusahakan selama di dunia pasti memiliki tujuan sesuai dengan kehendak masing-masing pribadi. Islam sangat menganjurkan berusaha/bekerja dalam rangka menggapai yang diinginkan. Merupakan sunnatulah, tujuan dapat tercapai dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Islam mengajarkan bekerja termasuk ibadah, bahkan bekerja tergolong derajat ibadah tertinggi. Sampai Rasulullah SAW menjelaskan, tidak semua dosa dapat terhapus melalui ibadah baik, sholat, puasa, zakat, dan lainnya, tetapi terdapat dosa yang dapat dihapus dengan cara bekerja sungguh-sungguh.

Seorang muslim sangat dianjurkan untuk produktif dengan bekerja, tetapi perlu diingat di sisi lain Allah juga memerintahkan manusia untuk beribadah kepada-Nya.

Alangkah sempurnanya kerja yang kita lakukan dapat terhitung juga sebagai ibadah. Tujuan yang hendak dicapai terpenuhi ditambah memenuhi juga perintah Allah beribadah. Seperti pepatah modern, sekali ke toko buku 2, 3 buku terbaca secara gratis (lho dayung dan 2, 3 pulaunya kemana ?!?).

Nikmat sekali ya jika kerja kita juga terhitung ibadah, mau tau caranya?

Satu, persiapkan dan luruskan niat yang sebelum melakukan suatu pekerjaan. Segala yang akan dikerjakan merupakan bentuk ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan dunia dan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah dalam bentuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi diri atau keluarga sendiri tanpa merugikan/menzhalimi orang lain.

Kedua, ucapkan lafadz Bismillah (Dengan menyebut nama Allah) sebelum memulai pekerjaan. Insya Allah pekerjaan kita akan tercatat sebagai amal kebaikan. Manusia hidup tidak hanya di dunia, tetapi kelak di akhirat yang abadi. Sehingga amal kebaikan perlu dikumpulkan sebagai bekal agar diselamatkan pada kehidupan akhirat dengan terpilihnya kita sebagai penghuni surga. Amiin

Tidak ada yang kita lakukan sehari-hari, melainkan seluruhnya dihitung sebagai amal ibadah. Baca buku, pergi ke masjid, sekolah, berdagang, mencuci, tidur, semuanya tercatat sebagai tabungan amal kita di akhirat.

Sebelum membaca tulisan ini, sudahkah Anda membaca Bismillah? J

Terus Bergerak dan Berkarya | Baituna, Jannatuna

Berbagi | Follow @adamuthi

Wednesday, September 21, 2011

Maha Suci Allah

Subhanallah
Hanya Engkau ya Allah Yang Maha Suci

Astaghfirullah
Kami Hamba yang merasa suci

Astaghfirullah
Sucikanlah Kami, Ya Allah

Astaghfirullah
Kami ingin suci, untuk dekat kepada-Mu Yang Maha Suci

Astaghfirullah
Ampunan-Mu menyucikan Kami, Ampunilah Kami

Subhanallah... Subhanallah... Subhanallah...

Monday, July 18, 2011

Kemudahan

hati-hati dengan kemudahan

kemudahan yang memudahkan
mudah mendapatkan terkadang mudah melupakan
lihat barang sekeliling kita, bukankah telah dimudahkan keberadaannya
apakah telah memudahkan untuk bersyukur
lihat tubuh kita, bukankah telah dimudahkan kinerjanya
apakah telah memudahkan mencapai tujuan hidup
kemudahan justru memudahkan

hati-hati dengan kemudahan

mudah seringkali menyulitkan
mudah berjanji justru sulit menepati
mudah berhutang sulit melunasi
mudah berkata namun sulit menjadikan nyata
mudah berencana menjadi sulit realisasinya
mudah justru menyulitkan

hati-hati dengan kemudahan

seharusnya kemudahan menjadikan hati-hati
hati-hati memudahkan untuk bersyukur

hati-hati dengan kemudahan

seharusnya kemudahan memudahkan bersyukur
karena bersyukur memudahkan kemudahan


Sunday, July 10, 2011

Silaturrahim

“tinung, tinung, tinung... ,” selang beberapa detik kemudian, “tinung, tinung, tinung... ,” sepersekian detik kemudian “tinung, tinung, tinung...” Pukul 15.05 WIB saya kaget mendengar bunyi berulang kali nada SMS handphone. Dari layar handphone terlihat ada 7 sms masuk secara bersamaan.

“Alhamdulillah...,” ucap saya spontan. Isi SMS yang masuk semuanya menanyakan hal yang sama, yaitu seperti apa mekanisme bisa mendapatkan buku-buku islam secara gratis. Memang saat itu saya sedang berusaha menunaikan amanah mertua untuk mendistribusikan buku-buku dari usaha percetakan yang dahulu sempat ditekuninya.

Saya tetap bingung, dari mana orang-orang ini bisa cepat mendapatkan info saya akan mendistribusikan buku. Ting* langsung teringat, sebelumnya saya sempat menginfokan melalui akun twitter dan saya coba minta tolong retweet ke beberapa teman, organisasi, dan tokoh masyarakat. Tapi hal tersebut saya lakukan sudah 4- 5 jam yang lalu. Mengapa baru sekarang SMS tersebut berdatangan???

Segera saya mengecek akun saya, ternyata beberapa saat yang lalu telah terjadi sebuah peristiwa sebagai penyebabnya hehe...

adamuthi ahmad dawamul muthi RT by salimafillah

@salimafillah Mhn RT, bg yg d Jabodetabek & bth buku2 Islami u/perpustakaan masjid dll, bs hub sy (Ahmad) 08161160526.. Gratis.. Trm ksh..

Sangat ingin mengucapkan terima kasih melalui akun twitter ustadz, namun tertunda dengan beberapa kesibukan. Ternyata Allah berkehendak lain, Sabtu 9 Juli 2011 kemarin saya ditakdirkan untuk mengucapkan terima kasih langsung kepada beliau di Masjid Alhurriyyah kampus IPB Dramaga. Senyum hangat, jabat tangan akrab, serta perbincangan hangat, menemani pertemuan kami pagi itu.

Alhamdulillah.. Ternyata saya bisa merasakan terlebih dahulu kesejukan materi yang diberikan ustadz Salim A. Fillah, sebelum saya bersama istri tercinta mewujudkan mimpi bisa menikmati kesejukan ceramah ustadz Salim A. Fillah secara langsung di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta dalam Majelis Jejak Nabi (http://majelisjejaknabi.blogspot.com).

Bagi teman-teman yang kemarin tidak sempat datang ke Masjid Al-Hurriyyah IPB, berikut saya sertakan file rekaman isi materi dari ustadz Salim A. Fillah dalam acara STAR 48 yang diselenggarakan oleh SALAM ISC DKM Al- Hurriyyah

http://www.4shared.com/audio/BmBwSCYa/9_Juli_2011_-_Al-Hurriyah_IPB.html

Sukses selalu usatdz, smoga dimudahkan dalam menjalankan amanah-amanahnya, semoga keluarga sehat selalu, dan semoga silaturrahim bisa mempertemukan kita lagi di lain waktu.

“Mari kita beridentitas dengan mengatakan saksikan bahwa aku seorang muslim, mari kita berkompetisi di jalan cinta para pejuang, dan mari bersinergi dalam dekapan ukhuwah. Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara yang diridhoi Allah, dalam rangka meraih ridho Allah.”

(Salim A. Fillah)


(9 Syaban 1432 H/10 Juli 2011, Jl. Merdeka No. 150, Bogor)

http://adamuthi.wordpress.com/

http://twitter.com/adamuthi

Friday, June 3, 2011

Nikmat

Alhamdulillah.. wa syukurillah.. saya ucapkan kepada Allah Tuhan Semesta Alam


Allah yang memberikan saya nikmat sehat setelah sakit
Allah yang memberikan saya nikmat suka cita menyambut datangnya bulan Rajab
Allah yang memberikan saya nikmat bersilaturahmi dengan teman
Allah yang memberikan saya nikmat menyadari bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan
Allah yang memberikan saya nikmat di waktu maghrib bersujud dalam rumah-Mu Masjid At-Tin (TMII)
Allah yang memberikan saya nikmat berkumpul dengan sanak keluarga
Allah yang memberikan saya nikmat menyelami kadar diri
Allah yang memberikan saya nikmat hidup pada tanggal 2 Rajab ini
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Ya Allah sampaikanlah usiaku dengan Ramadhan-Mu

Ya Allah ampunilah segala dosa hamba- Mu yang kecil ini.. Allahu Akbar

(2 Rajab 1431 H. Jatiwaringin Asri, Pondok Gede)

Tuesday, May 10, 2011

Yuuk meramaikan masjid

"Assalaamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
"Pak Jazuli ya?"
"Iya"
"Mohon maaf Pak, mungkin Pak Jazuli tahu jam tangan yang ketinggalan di kamar mandi masjid. Tadi teman saya shalat Subuh di masjid, jam tangannya ketinggalan, merek 'X' warnanya 'Y'

"Iya, Pak. Saya simpan di masjid, mari saya ambilkan," kata Pak Jazuli sambil mengantarku ke masjid dan memberikan jam tangan itu. Alhamdulillah.

Subhaanallah... Betapa jujur dan amanahnya takmir masjid ini. Benar-benar mencerminkan akhlak islami. Kalau jam tangan itu tertinggal di tempat umum selain masjid, tidak ada
jaminan ia akan aman seperti ini.

Aku jadi ingat sabda Rasulullah.

"Jika kalian melihat seseorang yang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman. Allah berfirman, 'Sesungguhnya, yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.'”

(HR. Tirmidzi. Ia berkata “hasan shahih”)

Orang yang rajin ke masjid seperti Pak Jazuli, memelihara shalat jama'ah, bahkan mengabdikan diri untuk merawat dan membersihkan masjid, insya Allah adalah mukmin. Seperti jaminan hadits di atas. Dan indikator yang sangat mudah untuk mengukur seseorang itu beriman adalah kejujurannya.

“Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” tanya seorang sahabat suatu ketika kepada Sang Nabi.
“Mungkin saja,” jawab Sang Nabi sebagaimana diriwayatkan Imam Malik.
“Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?”
“Mungkin saja.”
“Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?”
“Tidak.” tegas Sang Nabi mengakhiri salah satu hadits dalam Al-Muwatha' itu.

Kejujuran amat mahal dan menjadi barang langka di negeri ini. Tidak banyak orang yang seperti Pak Jazuli. Karenanya aku makin bangga dengan Islam dan orang-orang masjid seperti Pak Jazuli.

Andaikan semua pejabat, pemimpin, dan wakil rakyat seperti Pak Jazuli, betapa indahnya negeri ini.

(sumber:http://muchlisin.blogspot.com/2011/05/makin-bangga-dengan-islam-dan-orang.html)